
1 juni 2008 yang bertepatan dengan hari lahirnya sebuah Ideologi bangsa yang bernama Pancasila telah terjadi sebuah tragedi di Monas dan berlanjut dengan keluarnya Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga Menteri.
Sayangnya, keputusan 3 Menteri tersebut banyak yang merasa tidak puas, Pada satu sisi, para Pendukung Ahmadiyah merasa keputusan tersebut telah membatasi hak warga Ahmadiyah. Di sisi lain, Mayoritas umat Muslim merasa SKB belum mampu menyelesaikan Masalah, dan dampaknya, tuntutan Pembubaran Ahmadiyah terjadi di mana-mana.
Ada Pihak Asing di Belakang Semua Ini.
Dua hari Pasca insiden, kedutaan Besar AS di Indonesia mengeluarkan Statement mengutuk keras aksi kekerasan oleh FPI, pihak Kedutaan AS menggatakan bahwa pihak FPI telah melanggar hak kebebasaan beragama dan dapat menganggu keamanan.
“ Bentuk kebiasaan kekerasan ini memiliki dampak serius bagi kebebasan beragama di Indonesia” Tulisnya yang di terbitkan oleh The Jakarta Post, 3/6/2008 “ Kami mendesak pemerintah Indonesia untuk terus membela kebebasan beragama bagi semua warga negara sebagaimana yang termaktub dalam konstitusi Indonesia” Tambahnya.
Yang menjadi pertanyaan, mengapa Kedutaan Besar AS begitu peduli terhadap Insiden monas tersebut padahal tidak ada korban satu pun yang jatuh dari warga Negara AS..?
Tidak hanya itu saja, pihak AS pun melakukan kunjungan langsung dan memberikan bantuan kepada korban luka insiden Monas dari Aliansi Kebangsaan untuk kebebasan beragama dan berkeyakinan. Hal ini menujukkan adanya campur tanggan Pihak Asing terhadap masalah dalam Negeri, sesuai dengan pernyataan anggota Fraksi PKS di DPR, Soeripto.
Dalam sidang Pleno ke-8 Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (Dewan HAM PBB) di Jenewa, membahas masalah yang terjadi di Indonesia, para perwakilan Negara tesebut merasa pemerintah Indonesia telah melanggar HAM dengan di keluarnya SKB 3 Menteri tersebut, bertanda bahwa Pemerintah Indonesia telah membatasi Warga Negaranya untuk beragama.
Warga Negara Indonesia Berkomentar…….
Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Hidayat Nur Wachid menengarai adanya agenda asing dalam insiden Monas. Alasan beliau adalah adanya kedutaan Besar (KEDUBES) yang turut berkomentar dalam Insiden Monas (ANTV, 9/6/08)
Pengamat Intelijen, Soeripto, juga mengatakan “Ada usaha untuk membuat citra kekerasan pada umat Islam atau violent behavior. Citra itulah yang kin sedang di munculkan” Ujarnya yang di kutip Hidayatullah.com “ Usaha-usaha seperti ini tidak tertutup kemungkinan dilakukan oleh Intelijen Asing” Sambungnya.
Tokoh Betawi, Ridwan Saidi membeberkan “ Saya punya data, LSM berkedok pejuang Demokrasi dan HAM menerima dana Asing. Mereka harus diusut. Insiden Monas itu festival intelijen dengan LSM-LSM yang di biayai asing” (Rakyat Merdeka, 16/6/08).